Blog

Emma's Eczema Story part 1 (The Beginning)

March 21, 2018
/
sharing for caring
Emma's Eczema Story part 1 (The Beginning) image

Perjalanan Eksim Emma dimulai dari usia 4.5 bulan, saya ingat sehari sebelumnya saya baru aja makan keju yg cukup banyak, besoknya mendadak dia diare (pup hampir setiap 10 menit) dan di akhiri dengan pup berlendir dan ada darah

 

Panik? Bangettttttt!!! Tanya ke DSA dicurigai lebih kepada alergi. Dan gapapa katanya ga perlu panik, pantau aja, thanks God nya gak bedarah lagi habis itu, tapiiiiii... sejak itu eksimnya keluar, dimulai dari pipi, lalu tangan, kaki dan seluruh badan.

 

Kasar, merah, kering, dan gatal pastinya

 

Pada masa itu, sumber eksim yg emma alami paling besar berasal dari ASI, karena emma belum mulai makan. Waktu itu saya bingung banget, bawa ke dokter, dokter bilang apa yg saya makan ga ngaruh segitunya kok ke anak, tapi emma selalu merah! Selalu kering, kadang berdarah.

 

Baca kesana kemari, saya yakin akan ada solusinya. Akhirnya karena sumber alergi dia berasal dari apa yg saya makan, saya diet. Sama sekali tidak makan susu-turunan susu, telur, seafood, kacang2 an. Hasilnya? Berat badan saya sangat drop dan well saya bisa bilang, saya tidak sehat. Most of it, dipicu karena stress, siapa yg ga stress yahhh jalan2 keluar ditanya anaknya kenapa? Itu sih pasti habis nyusu gak di lap ya, itu alergi asi pasti, rasanya saya super males ketemu orang pada masa itu.

Banyak yg menyuruh saya stop ASI aja, kasian anaknya. Tapiiii hati saya merasa itu tidak benar. Saya baca dan baca dan cari info dimana2. Ingat ini moms, mungkin menghentikan ASI terdengar mudah, jalan keluar tercepat untuk kita si ibu, anak gak gatal2 (mungkin), dan jelas kita gak perlu diet2 ketat eliminasi bla bla bla (yg menyita waktu dan hati dan pikiran).

 

TAPI! tau donkkk ASI selain makanan terbaik untuk si anak, jg mengandung prebiotik alami yg sangat dibutuhkan anak dan pencernaanya. Jadi, dengan memberikan ASI sebenarnya kita memberikan investasi jk panjang (dalam hal eksim ini), bukannya justru ASI penyebabnya, tapi ASI mengandung penyebab alergi (karena makanan yg dikonsumsi). Seiring waktu, dengan eliminasi diet saya cukup ada gambaran alergi Emma pada apa yg saya makan. Tapi jujur Emma pada masa itu masih jauh dari mulus, tp membaik iya.

 

Lalu datanglah masa MPASI, masa yg bagi sebagian ibu menyenangkan, tapi bagi saya super stress hahahah! Masa ini cobaan baru bagi saya. Kalau dulu sumber alergi dia diolah dulu oleh tubuh saya menjadi ASI sekarang langsung dikonsumsi, hasilnya? Kalau itu alergen, luar biasa dampaknya.

Selama eliminasi diet yg saya lakukan saya hanya menghindari protein: dairy, turunan dairy, telur, kacang-kacangan, seafood. Tidak pernah sedetikpun terfikir ada manusia di dunia ini yg alergi terhadap buah. But she was.

 

Makanan pertama yg Emma konsumsi langsung? Pepaya!

Hasilnya? Selain pupi sekitar 4 kali (Emma biasanya 1-2 kali saja sehari), beberapa jam kemudian, seluruh pipi, leher, dan bagian yg terkena pepaya merah menyala (seperti di gambar—itu adalah kejadian sesaat sesudah mengkonsumsi pepaya)

 

Panik, bawa ke dokter dengan berderai air mata.

 

Tau DSA nya bilang apa? Saya di marahin. Saya ingat, ketika saya panik itu ditengah-tengah kontrol ada anak gawat darurat yg kejang dan tindakan oleh DSA Emma, setelah selesai, DSA nya bilang

 

Anak kamu cuma merah2, gatel, kering. Mungkin bulan depan hilang, atau ya mungkin seumur hidupnya eksim. Tapi dia masih punya nyawa, masih hidup. Deal with it! Cari solusinya, stand up mom!

 

Disitu saya merasa tertampar, betapa konyol apa yg saya lakukan, menangisi, meratapi nasib anak saya mukanya merah-merah, disaat banyak orang yg untuk hidup saja masih berjuang...

 

Dari sana, setiap hari adalah pembelajaran, uji coba bagi saya, dengan tidak pernah seharipun saya mau menyerah terhadap keadaan, saya yakin ada solusi.

 

Dan, dokter terbaik bagi anak2 kita? Ya ibunya! No offense to all doctors, tapi ada hal2 yg memang bisa dan hanya bisa ditangani oleh seorang ibu. Dokter bagi saya sangatttt penting, tapi dokter perlu menolong banyak orang, dengan fokus terbagi untuk banyak pasien. Kitalah sang ibu (for some cases), yg paling bisa melihat, mengamati dan dengan cinta dam kesabaran membantu anak kita sembuh. And thank God we did it

from has purchased
about ago